Setiap tabel yield menampilkan biaya trading yang Anda terima, lalu berhenti di situ. Padahal penyedia likuiditas juga membayar impermanent loss — dan biaya itu tidak pernah muncul di angka yang dipajang.
Diurutkan dari hasil bersih tertinggi. Tiap struk dibaca dari atas ke bawah: yang dijanjikan, yang benar-benar diterima, yang dipotong diam-diam, lalu sisanya.
Kolom terakhir adalah yang benar-benar masuk kantong Anda, disetahunkan.
| Pool | Rantai | APY dipajang | Kenyataan disetahunkan | Sisa berapa persen |
|---|
Angka APY yang dipajang adalah potret satu hari. Kalau kemarin kebetulan ramai, angkanya melonjak, lalu disetahunkan seolah keramaian itu berlangsung 365 hari. Di halaman ini saya pakai rata-rata 30 hari, bukan potret sehari.
Impermanent loss muncul saat harga kedua token bergerak berbeda. Kalau satu token naik dan pasangannya tidak, kolam otomatis menjual yang naik dan membeli yang turun. Anda berakhir dengan lebih sedikit token yang menang. Selisihnya dibanding sekadar menyimpan kedua token itulah impermanent loss.
Angka IL di halaman ini adalah batas paling ringan, bukan perkiraan. Rumus yang saya pakai berlaku untuk kolam Uniswap v2 yang menyebar likuiditas ke semua harga.
Posisi Uniswap v3 dan v4 memusatkan likuiditas ke rentang harga sempit. Itu memperbesar biaya trading yang diterima, tapi juga memperbesar impermanent loss, kadang berkali lipat. Jadi kalau posisi Bapak v3 dengan rentang sempit, kerugian sebenarnya lebih besar dari yang tertulis di sini.
Membuka dan menutup posisi memakan biaya gas, dan biaya itu tetap besarnya berapa pun modal Anda. Jadi ada batas di bawah mana seluruh hasil bersih habis dimakan ongkos.
| Kalau gas | Buka + tutup | Modal minimal agar impas |
|---|
Ini bukan nasihat investasi, dan tidak ada di sini yang bisa membuat Anda kaya dengan cepat.
Yang bisa dilakukan halaman ini cuma satu: menunjukkan berapa yang tersisa dari angka yang dipajang, supaya keputusan Bapak berdiri di atas angka yang benar.